BAUBAU,FAKTASULTRA.ID – Kota Baubau sudah dua kali mendapatkan penghargaan dari Menteri Kesehatan terkait Kota sehat yakni pada tahun 2017 mendapatkan Padapa dan tahun 2019 mendapatkan Swasti Saba Wiwerda.
Kini Kota Baubau berencana untuk mendapatkan penghargaan tertinggi kota sehat yang dinamakan Swasti Saba Wistara pada tahun 2021 ini. Untuk itu, beberapa elemen atau stakeholder yang terlibat didalamnya mulai dari forum kota sehat, tim akselerasi kota sehat yang merupakan gabungan dari beberapa OPD dan tim pembina kota sehat termaksud camat dan lurah telah melakukan langkah-langkah seperti melakukan rapat koordinasi Rabu (14/4/2021) di aula PO 5 Bappeda Kota Baubau dalam rangka persiapan verifikasi dokumen penilaian penghargaan kota sehta kategori Swasti Saba Wistara tahun 2021.
Ketua Akselerasi Kota Sehat Kota Baubau Dr Dahrul Dahlan, S.STP, M.Si mengatakan, untuk mendapatkan penghargaan Swasti Saba Wistara yang merupakan penghargaan tertinggi kota sehat diperlukan dokumen lebih ruwet. Sehingga, membutuhkan bantuan dari seluruh stakehokder seperti camat dan lurah untuk persiapan dokumen dan persiapan kunjungan lapangan dari pusat yang diperkirakan pada bulan Juli atau Agustus tahun 2021.
Dahrul Dahlan mengungkapkan, ada beberapa kebijakan dan strategi untuk mendapatkan Swasti Saba Wistara yang tentu kebijakan dan strategi agak sedikit berbeda dari model yang sudah dikembangkan pada penghargaan Swasti Saba Wiwerda tahun 2019 lalu. “Peran kolaborasi masyarakat di Kelurahan harus dimaksimalkan karena kalau tidak dimaksimalkan terutama untuk kelembagaan maka saya yakin kalau hanya forum yang melakukan ini tentu tidak maksimal sementara waktu kita tidak sampai setahun. Dan tentunya ada perubahan model, kalau yang tahun lalu tidak dalam posisi pandemi maka sekarang ini dalam posisi pandemi tentu kriteria maupun pendekatannya justru berbeda. Karena itu, kami sangat mengharapkan curhatan khususnya dari Camat dan Lurah yang tahu persis kondisi di lapangan dan tentu kebijakan yang dilakukan harus efektif berbeda di tahun-tahun sebelumnya,”ungkapnya.
Ditambahkan, strategi yang diterapkan untuk melakukan percepatan pencapaian di penghragaan Swasti Saba Wistara tahun 2021 ini yakni, pertama adalah kelembagaan dimana untuk kelembagaan ini, di forum kota sehat sudah melakukan baik dari sisi adminitrasi yang harus dilengkapi kelurahan. Kemudian, kedua, tatanan dimana yang dikejar dari 9 tatanan itu paling tidak 7 tatanan yang harus terpenuhi Swasti Saba Wistara meskipun pihaknya sudah bersepakat ke 9 tatanan ini akan dilakukan walaupun targetnya hanya 7 yang dipenuhi. Sehingga, pada saat penilaian secara secara nasional akan dilihat yang mana yang memenuhi syarat. Hal ini dimaksudkan supaya ada persiapan untuk memasuki klasifikasi berikutnya dan masyarakat di level terbawah masyarakat sudah siap.
Disamping itu, yang ketiga adalah inovasi. “Sebenarnya semua yang dilakukan oleh kelurahan dan OPD itu sudah bagian dari kota sehat hanya belum terarah sehingga ini sangat diharapkan. Tatanan ini ada wajib dan pilihan sudah ada di per kemenkes dan ini sama dengan wiwerda tahun 2019 kalau misalnya kita tentukan bahwa ada kelurahan yang bersangkutan ada car free day maka kelurahan itu saja. Kemudian bebas polusi udara, tidak boleh membakar sampah lingkungannya harus bersih semuanya harus standar. Ketika ditentukan di wilayah itu masuk dalam kawasan penilaian maka semua harus standarnya bersih. Kemudian lokasi, seperti yang sudah disampaikan di Musrembang kelurahan dan kecamatan strategi yang paling efektif dan contoh di beberapa wilayah di Indonesia yang sudah masuk dalam kategori Swasti Saba Wistara itu adalah kampung tematik. Beberapa di kelurahan saat Musrembang sudah menyampaikan ingin menjadikan kelurahan sebagai kampung tematik. Dan saya yakin kalau kampung tematik ini ada perputaran ekonomi bisa meningkat karena orang akan datang bukan hanya di wilayah kepulauan Buton tapi se-Sultra atau bahkan Indonesia yang akan datang ke Baubau untuk belajar bahwa ternyata ada kampung tematik di Baubau. Kenapa kami berani menyampaikan ini karena pernah terjadi di Kecamatan Murhum ada lorong hijau yang lokasinya di depan kantor camat murhum, sampai–sampai dari Kendari datang hanya untuk melihat lorong hijau itu karena sudah terekspose di media sosial,”ujarnya.
Sementara itu, ketua forum kota sehat Kota Baubau, Drs H Masri, M.Pd meminta kepada semua stakeholder yang terlibat dalam penilaian Swasti Saba Wistara tahun 2021 agar lebih serius untuk mengurus penilaian ini terutama yang ada di kecamatan dan kelurahan serta OPD yang terlibat dalam tim akselerasi Kota Baubau. Apalagi, Wali Kota Baubau Dr H AS Tamrin, MH saat rapat koordinasi beberapa waktu yang lalu sudah mewanti-wanti agar serius menghadapi lomba penilaian Swasti Saba Wistara tahun 2021.
Sedangkan tim pembina kota sehat Kota Baubau yang juga Wakil Ketua TP PKK Kota Baubau Wa Ode Nursanti Monianse menegaskan, agar adminitrasi dan pelaporan yang ternyata belum semua kelurahan melakukan itu segera dirampungkan mengingat waktu penilaian sudah semakin dekat. Pihaknya berharap apa yang dilaporkan dalam dokumen sama dengan kenyataan di lapangan. Sehingga, tentu ini membutuhkan bantuan dari camat dan lurah untuk membackup teman-teman dari forum kota sehat dan tim akselerasi percepatan kota sehat, forum penasehat. “Sebenarnya saya punya saran untuk kepengurusan ada pelibatan TP PKK kelurahan supaya menggampangkan koordinasi termaksud ingin menawarkan untuk masalah pembinaan dan sosialisasi di lapangan menggunakan konsep PKK yang melibatkan seluruh dasa wisma yang ada di kelurahan sebagai ujung tombak. Jadi kalau ada pembinaan dan sosialisasi agar bisa gabung dengan tim kota sehat dan gabung dengan dasa wisma ketika tim kita sehat akan ke lapangan,”jelasnya.
Nursanti Monianse yang juga ketua GOW Kota Baubau ini mengusulkan untuk menggelar lomba antar kelurahan guna menyelesaikan masalah data dan kesekretariatan sehingga camat dan lurah betul-betul siap. Penilaian lomba pun tidak satu kali tetapi secara bertahap dan ketika turun tim kota sehat ke kecamatan atau kelurahan mungkin ada saja hal yang masih kurang dan pada saat itu juga langsung mengevaluasi dan melakukan pembinaan bahwa ini yang kurang agar dibenahi. Kemudian turun lagi, melihat apakah hal yang sudah dievaluasi dan diminta diperbaiki sudah dibuat atau belum sampai terakhir ketika akan dilakukan penilaian. Kemudian, mengenai lokasi penilaian, harus kerja keras terutama masalah kebersihan harus maksimal.











