
BUTON, FAKTASULTRA. ID –Wa Puti (70) hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot di kebun ubi di Desa Banabungi Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton , Sulawesi Tenggara. Untuk bertahan hidup ia mengandalkan hasil kebun dan belas kasih temannya Wa Ulo.
Nenek Wa Puti , tinggal seorang diri di rumah tak layak huni di tengah hamparan kebun ubi jalar. Ia sudah berusia sekitar 70 tahun iapun tak bisa berbahasa Indonesia dengan fasih hanya berbahasa daerah (cia-cia).
Tinggal seorang diri di gubuk reot di tengah kebun ubi jalar beruntung ia mempunyai seorang teman nenek Wa Ulo yang menjadi teman ceritanya sejak puluhan tahun lamanya.
Dua nenek renta itu setiap harinya harus bertahan hidup dengan hasil kebunnya Berupa ubi jalar dan sayur-sayuran. Tak pelak keduanya harus berbagi makanan untuk kebutuhannya.
Sahabatnya nenek Wa Ulo akan sering mengunjungi untuk memberikannya air bersih ataupun hanya ingin bertemu untuk bercerita.
Nenek Wa Puti sudah puluhan tahun tinggal digubuk reok yang dibangunnya sendiri tanpa sanak saudara yang melihatnya hanya nenek Wa Ulo yang selalu memperhatikannya. Rumahnya memang jauh dari kesan layak huni.
Rumah berukuran 1,5 x 3 meter, kondisi bangunannya hanya untuk ukuran satu orang, kayu yang dijadikan penopang dinding agar tidak ambruk. dinding-dinding bilik dari plastik terpal yang sebagian sudah berlubang.
“Sejak puluhan tahun saya mengenal nenek Wa Puti, saat itu daerah ini masih hutan belum ada orang, kami bertemu di mata air saat mengambil air,” tutur nenek Wa Ulo (70) rabu (14/10/2020) Diceritakannya, saat mengunjungi Nenek Wa Puti.
Nenek Wa Ulo tidak bisa mengingat sejak kapan pertemuannya dengan nenek Wa Putih saat itu belum ada perkantoran di tempatnya sekitaran Polres Buton.
Di dalam rumah berukuran 1,5×3 meter dengan lantai tanah itu tidak ada ruangan bahkan untuk tidurpun nenek Wa Puti tidur dengan cara duduk di ruang itu.Tanpa Listrik di depan rumah hanya ada tungku perapian yang biasa digunakan untuk memasak. Tak ada tempat mandi dan buang hajat.
Sehari-hari ia menghabiskan waktu dengan berdiam diri di gubuknya. ia tidak berinteraksi dengan warga lain selain dengan nenek Wa Ulo.
Nenek Wa Ulo mengatakan, semenjak bertemu dengan nenek Wa Puti ia hanya hidup sendirian tanpa suami hidup sebatang kara karena tidak memiliki anak.
“Ia tidak punya suami dan anak, sejak bertemu dengannya ia hanya sendiri,” ucapnya lagi.

Ia mengatakan nenek Wa Puti dulu pernah tinggal di atas gunung bersama warga lainnya untuk berkebun namun saat dipindahkan ke kekampung ia menetap di kebun ini dan bukan miliknya juga.
“Hanya saya temannya dan saya akan berbagi beras jika mendapatkan sembako dari pemerintah, nenek Wa Puti tidak dapat bantuan,”katanya
Polwan di Polres Buton Membantu Nenek Wa Puti
Saat ini seorang Polwan Polres Buton Briptu Sri Yuniarti Basan membantu nenek Wa Puti, ia berharap, pemerintah kabupaten maupun pemerintah desa mau mengulurkan bantuan atas kondisi kehidupan nenek Wa Puti.
“Untuk makan sehari-hari selama ini dibantu temannya nenek Wa Ulo. Saya sendiri mengenal nenek Wa Puti dari temannya,” kata Yuni.
Ia mengaku pertama kenal dengan nenek Wa Puti ketika hendak membantu nenek Wa Ulo untuk dibuatkan wc dikebunnya tapi nenek Wa Ulo meminta agar temannya yang di bantu. Saat ini dengan dana pribadinya ia mebangunkan rumah untuk nenek Wa Puti dari papan dengan ukuran 3×4 meter di dalam kebunnya.
“Saya juga sudah berbicara dengan pemilik kebun, ia mengizinkan jika kebunnya dibangunkan rumah untuk nenek Wa Puti,”katanya.
Katanya atas dasar kemanusiaan ia membantu nenek Wa Puti, apalagi nenek ini bercerita pernah digigit tikus saat tidur di rumahnya.
Karena nenek Wa Puti tidak memiliki KTP dan kartu Keluarga (KK) makanya tidak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah.











