Memberitakan Dengan Fakta
BAUBAU  

Lima Guru PKBM Mainawa Kreativa Menang Lomba Cerita Anak

Lima Guru PKBM Mainawa Kreativa Menang Lomba Cerita Anak
Ketgam : Foto : Jajaran Pengajar PKBM Inklusi Mainawa Kreativa saat berfoto bersama.

Baubau – Angkat Kearifan Lokal dan STEM, Lima guru PKBM Inklusi Mainawa Kreativa, berhasil keluar sebagai pemenang dalam Lomba Cerita Anak Dwibahasa tahun 2026 yang diadakan oleh Balai Bahasa Sulawesi Tenggara.

 

Rismayani, Ketua PKBM Inklusi Mainawa Kreativa mengatakan, dalam persiapan mengikuti lomba tersebut, Mainawa Kreativa mengadakan Lokakarya Menulis Buku Anak untuk jenjang Paud dan SD yang diikuti oleh seluruh guru di Mainawa Kreativa. Lokakarya tersebut dilanjutkan dengan pendampingan dan kurasi karya agar dihasilkan naskah cerita yang siap lomba.

 

“Kami menyadari bahwa guru-guru di Mainawa memiliki potensi dalam menulis cerita anak. Karena itu, kami mengadakan lokakarya sebagai wadah pengembangan kemampuan sekaligus sebagai persiapan mengikuti lomba menulis cerita anak yang diadakan oleh Balai Bahasa,” ucap Rismayani.

 

Rismayani juga menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam lomba dan pelaksanaan lokakarya tidak semata-mata bertujuan meraih kemenangan, tetapi menjadi langkah nyata dalam menghadirkan buku anak hasil karya putra-putri daerah.

 

Selain itu, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan budaya literasi serta memperkaya koleksi buku anak yang sesuai dengan potensi dan kearifan lokal masing-masing daerah.

 

Hasil dari Lokakarya tersebut PKBM Mainawa Kreativa berhasil mendaftarkan 10 naskah cerita dari 8 guru. Pengumuman pemenang dirilis Jumat, 29 Mei 2026, menetapkan 15 naskah terpilih. Lima di antaranya berasal dari guru-guru Mainawa Kreativa yang membahas ragam tema.

 

“Di Mainawa, kami sering mengadakan kegiatan Read Aloud dan bookish play bersama peserta didik. Dan kami selalu berharap suatu hari nanti buku yang dibacakan kepada anak-anak merupakan karya kaka guru di Mainawa,” tambahnya.

 

Naskah yang berhasil meraih kemenangan dalam lomba cerita anak itu antaranya karya Nelly Triana Saputri yang menyajikan kisah persahabatan tiga hewan endemik Sulawesi Tenggara yaitu Anoa, Tarsius dan Monyet Butung (Macaca Ochreata) dalam mencari tempat makanan baru di hutan Lambusango.

 

Karya Suhardiyanto dengan judul cerita Maleo dan Biawak Pemburu Telur (jenjang B2), mengajak anak-anak untuk mengenal fakta-takta sains dari Maleo, burung endemik pulau Sulawesi.

 

Karya Rismayani dengan judul cerita “Mengapa Menangis, Dao?” (jenjang A). Berkisah perihal Dao sang teripang laut yang punya kekuatan hebat menyaring pasir kotor pada laut yang tercemar.

 

Karya Weka Anggun Gravika, menggelitik anak-anak melalui cerita persahabatan Beni si benih dan bukit botak bernama Kora di Hutan Lambusango. Cerita anak pada jenjang B2 ini berjudul: “Jangan Remehkan Aku Yah!”

 

Karya Hikmah Atika Sari punya ide unik. Ia “membongkar” isi haroa melalui cerita berjudul “Tangis Kecil Baruasa” (Jenjang A).

 

Suhardiyanto, sebagai pembina PKBM Inklusi Mainawa Kreativa mengatakan, selain mengikuti lomba, menulis buku ini lebih ditujukan untuk mengenalkan akar budaya lewat buku cerita anak. Agar anak-anak tidak lupa dengan identitasnya di tengah derasnya arus globalisasi.

 

“Sebelum mengenal dunia yang luas, anak perlu mengenal lingkungannya sendiri. Buku cerita anak yang bertema STEAM dan kearifan lokal, membantu anak-anak membangun imajinasi, berpikir kritis, dan menciptakan gagasan baru dari pengalaman yang dekat dengan kehidupannya,” terangnya.

Tinggalkan Balasan