Memberitakan Dengan Fakta

Tak Bisa Ikuti Ujian, Siswi SD Wakatobi asal Papua Minta Bantuan Presiden Jokowi

Tak Bisa Ikuti Ujian, Siswi SD Wakatobi asal Papua Minta Bantuan Presiden Jokowi
Terancam tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN), seorang siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Wakatobi, Sherly Yolanda Since Tamakaimu, meminta bantuan kepada Presiden Joko Widodo. (Foto : Istimewa)

WAKATOBI, FAKTASULTRA.ID – Terancam tak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN), seorang siswi Sekolah Dasar di Kabupaten Wakatobi, Sherly Yolanda Since Tamakaimu, meminta bantuan kepada Presiden Joko Widodo.

Sherly yang berasal dari Papua ini tak bisa mengikuti UN sekolah dasar karena tidak terdaftar sebagai peserta ujian dalam system Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Saya Serly, dari SD Negeri 3 Pongo. Bapak presiden tolong bantu saya mau ikut ujian. Saya mau sekolah, tolong saya.” pinta Serly, Kamis (23/1/2020).

Sherly lahir di kampung Baru Distrik Obaa, kabupaten Mappi, Papua, tahun 2007 silam.

Pada tahun 2018  ia kemudian pindah ke Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, mengikuti  orangtua angkatnya dari pasangan La Bae dan Sulistia.

Ia pun melanjutkan sekolahnya di SDN 3 Pongo di kelas V sebagai siswi titipan karena tidak punya surat perpindahan dari sekolah asal.

Namun perpindahannya, membuat dirinya terancam tak bisa mengikuti ujian nasional karena tidak masuk dalam daftar peserta ujian di Dapodik.

Situasi yang dihadapi Sherly ini menyentuh hati seorang warga Wakatobi, Saleh Hanan dengan menulis Surat Putih Sherly Untuk Presiden Joko Widodo.

“Tak ada data tentang dirinya dari sekolah asal di Papua. Tak punya akte kelahiran dan KK. Sekolah yang sudah 2 tahun mendidik Serly di Wakatobi sedang kesulitan menolongnya. Guru-guru, kepala sekolah, tak kuasa berhadapan dengan teknologi Dapodik,” tulis Saleh Hanafi.

Dalam surat tersebut juga tertulis Serly datang ke Wanci, Wakatobi, bersama orang tua angkatnya, penduduk asli Wakatobi. Kisah itulah pangkal empati ibu-ibu peserta rapat, ketika negara mensyaratkan deretan birokrasi dalam kronologis hidup seperti Serly.

“Orang tua angkatnya tidak bisa mengurus administrasi kependudukan untuk Serly. Kantor catatan sipil juga tidak punya pilihan menghadapi perangkat data kependudukan,” tulisnya.

Secara terpisah, Kepala SDN 3 Pongo, Abdul Maafi mengatakan, awal Serly masuk sekolah sebagai siswa titipan aja karena tidak ada surat perpindahan sekolah.

“Saat itu saya sudah sempat nanya terkait dokumennya, tapi tidak ada. Sehingga kami pihak sekolah menerima saja, karena kasian anak ini kalau tidak sekolah,” ujar Abdul Maafi .

Ia menambahkan, kendala yang dihadapi saat ini, Sherly tidak dapat mengikuti ijian nasional karena ia belum terdaftar sebagai peserta ujian.

Abdul Maafi menambahkan, pihaknya akan membantu sherly sehingga sherly dapat mengikuti ujian dan melanjutkan pendidikan ditingkat SLTP.

 “Saat ini operator sekolah sudah berupaya mendeteksi sekolah awal Serly untuk meminta data Serly. Operator sini sudah menghubungi operator Kabupaten awal Serly berada,” ungkapnya.

Penulis            : Saiful

Tinggalkan Balasan