
BUTON,FAKTASULTRA.ID – Bupati Buton Drs La Bakry M.Si pimpin Apel Konsolidasi Operasi AMAN NUSA II Tahun 2020 dalam rangka Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Alam di Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang dipusatkan di Mapolresta Buton, jumat (13/11/2020).
Kata dia selain bencana non-alam berupa pandemi Covid-19 yang sedang mendera secara global, Indonesia harus bersiap menghadapi potensi bencana alam yang mulai nampak dari peningkatan akumulasi curah hujan (akibat fenomena alam La Nina), yang diprediksi akan berdampak besar di sebagian wilayah Indonesia.
“Dampak fenomena La Nina ini bagi Indonesia memang mengejutkan. Sebab normalnya, fenomena La Nina ini hanya berdampak besar terhadap cuaca dan iklim, terutama di wilayah Amerika Utara, Bahkan berdampak pada pola musim Badai Atlantik dan Badai Pasifik ,”ujarnya ketika membacakan sambutan Gubernur Sultra.
Namun lanjut dia kini dampak La Nina sudah mempengaruhi sebagian besar wilayah dunia. Dalam 10 tahun terakhir dampak La Nina yang datang dari utara berulang kali menghantam Indonesia. Fenomena alam La Nina merupakan kebalikan dari fenomena alam El Nino.
Fenomena La Nina, untuk wilayah Indonesia bagian Timur dalam prediksi BNPB Pusat, potensial menimbulkan bencana hidrometeorologi berupa banjir, angin puting beliung, gempa bumi, tsunami dan tanah longsor, di mana bencana-bencana alam ini sudah terjadi di beberapa daerah sejak Juli 2020.
Hal ini sudah disampaikan pula oleh Presiden Joko Widodo dalam rapat terbatas (ratas) terkait bencana alam. Dalam ratas tersebut Presiden Joko Widodo menyampaikan harapan besar kepada jajaran Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, bahwa negara harus hadir melakukan langkah antisipatif dalam menghadapi bencana alam akibat La Nina.
Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) merupakan daerah yang memiliki karateristik khusus yang tidak bisa diabaikan dari kemungkinan terjadinya kerawanan bencana alam.
“Bencana alam bersifat kontinjensi yang waktunya tidak dapat diketahui. Oleh karena itu, mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi bencana merupakan tanggung jawab dan prioritas kita semua,”ucap La Bakry mengingatkan.
Bencana alam berupa banjir, tanah longsor, dan gempa bumi merupakan bencana yang rentan terjadi di wilayah Sultra. Belum hilang dari ingatan, pada tahun 2019, di beberapa wilayah Sultra terjadi bencana banjir besar dan tanah longsor yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di lima wilayah, seperti; Konawe, Konawe Utara, Konawe Selatan, Kolaka Timur. dan Kota Kendari.
Data kewilayahan menyebut bencana di tahun tersebut telah merusak infrastruktur jalan dan jembatan, sehingga memutus alur transportasi lintas kabupaten dan provinsi.
Kesiapan personel, kendaraan, peralatan, dan koordinasi masing-masing stakeholder terkait bencana alam sangat diperlukan.
Apel konsolidasi ini bertujuan mengecek kesiapan personil, ranmor, rantis, dan peralatan perorangan dalam menghadapi bencana alam, sehingga di lapangan nantinya tidak ada kendala penanganan.
Guna menyatukan persepsi dan langkah bersama, Bupati Buton menyampaikan delapan (8) hal khusus untuk dipedomani oleh lima Satgas yang bertugas di garis terdepan. Hal ini dimaksudkan agar petugas dapat bertindak cepat, tepat, dan efektif demi meminimalisir dampak negatif yang timbul akibat bencana yang terjadi.
Katannya, banjir di sejumlah daerah berdampak dengan rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan, sehingga memutuskan jalur lintas antar kabupaten dan provinsi di Sultra.
“Tentunya kita tidak mengharapkabn kembali terjadi di Bumi Anoa yang kita cintai bersama. Oleh karena itu, kesiapsiagaan menghadapi bencana yang rentan terjadi, perlu dipersiapkan dengan baik,” harapnya.
Hadir saat apel Forkopimda Buton dan Busel, Ketua DPRD Buton dan Busel Ketua PN, anggota TNI dan Polri, Pejabat utama Polres Buton dan peserta upacara.











