BAUBAU – Prosesi Ritual Adat Tuturangiana Andala dan Tuturianga Rea tahun ini digelar oleh masyarakat Adat Kelurahan Waruruma, Kecamatan Kokalukuna, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, Kamis (24/9/2026).
Ketua panitia pelaksana, Erman S, Sos dalam sambutannya menyampaikan bagi masyarakat adat Kelurahan Waruruma, alam bukanlah sekadar tempat pijakan. Alam adalah bagian utuh dari kosmos ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa, yang ruang kehidupannya harus terus dijaga, dirawat, dan dihormati.
“Bagi warga Waruruma, kedua upacara ini dikenal sebagai Pakandeana Mia-Miana Tana te mia-miana tawo. Sebuah tradisi tahunan berupa sedekah bumi dan sedekah laut. Lebih dari sekadar perayaan rutin, ritual ini adalah manifestasi ungkapan rasa syukur yang mendalam atas kelimpahan hasil panen dan rezeki dari daratan serta lautan,” ungkapnya.
Merawat tradisi di era modern dapat dilakukan dengan memadukan nilai-nilai leluhur dan pemanfaatan teknologi digital agar budaya tetap relevan. Masuknya budaya asing secara bebas sering kali menggeser minat generasi muda terhadap budaya lokal.
Tradisi dianggap usang jika tidak beradaptasi dengan gaya hidup masa kini. Memasukkan nilai kearifan lokal dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan makna filosofisnya perlu untuk dipertahankan.
Di tanah yang kaya akan sejarah Kesultanan Buton ini, tradisi yang terus dirawat oleh komune adat Kadie Kokalukuna, Keberlanjutan tradisi Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala bukan tanpa alasan.
“Kedua tradisi ini memperkuat ikatan spiritual manusia dengan Sang Pencipta. Persembahan dari tanah dan laut menjadi pilar ucapan terima kasih atas setiap suapan makanan yang diterima hari ini, sekaligus doa untuk harapan akan kelimpahan rezeki di masa depan,” ucapnya.
Tradisi ini juga mempererat hubungan antar sesama manusia. Ritual tahunan ini menjadi momentum penting yang memanggil seluruh warga untuk berkumpul, meleburkan perbedaan, membangun semangat toleransi, dan menghidupkan kembali roh gotong royong.
“Dan yang tak kalah penting, Terjalinnya ikatan harmonis antara manusia dengan alam. Kearifan Buton mengajarkan sebuah prinsip universal jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita dengan sendirinya. Rezeki akan turun melimpah, keselamatan senantiasa terjaga, dan negeri dipelihara dari marabahaya serta musibah,” terangnya.
Di balik bentangan kain adat dan kehangatan doa yang terpanjat, tradisi Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala membawa pesan ekologis yang sangat kuat.
Prinsip utamanya mengajarkan kita untuk peduli dan melestarikan lingkungan tanpa merusak. Menghargai hasil panen bukan dilakukan dengan mengeksploitasi bumi secara berlebihan.
Tuturangiana Rea dan Tuturangiana Andala bukan sekadar nostalgia atau rutinitas tahunan. Ini adalah benteng entitas dan identitas budaya masyarakat adat Waruruma dan sekitarnya. Tradisi yang harus dijaga kearifan yang kelestariannya.
Adapun penyelenggaraan ritual adat yang dilaksanakan hari ini diharapkan dapat menjadi nilai untuk menjaga warisan budaya, mempererat persaudaraan, memperkuat gotong royong, serta membawa kebaikan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.
Merawat tradisi di era modern dapat dilakukan dengan memadukan nilai-nilai leluhur dan pemanfaatan teknologi digital agar budaya tetap relevan.
Masuknya budaya asing secara bebas sering kali menggeser minat generasi muda terhadap budaya lokal. Minimnya relevansi tradisi dianggap usang jika tidak beradaptasi dengan gaya hidup masa kini.












