Memberitakan Dengan Fakta
BAUBAU  

Mieno BL (Bachrun Labuta): Kisah 14 hari di Wuna, 14 Tahun di Wolio

Mieno BL (Bachrun Labuta): Kisah 14 hari di Wuna, 14 Tahun di Wolio
Muhlis Maindo, S.H. alumni  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI

Baubau,faktasultra.id – Menelisik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Muna yang sebentar lagi akan berlangsung, sangat menarik perhatian seorang Formatur Ketua DPD KNPI Kota Baubau, Muhlis Maindo, S.H., yang juga alumni  Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), alumni Universitas Dayanu Ikhsanuddin (Unidayan), sekaligus salah satu Aktivis Hukum di Kota Baubau, kepada salah satu Bacalon Bupati Muna 2024 – 2029.

Diawal kesempatan ini, singkat cerita, ayahnya adalah seorang ASN yang lahir pada tahun 1952 di Labongkuru, salah satu desa di Kecamatan Tongkuno Kab. Muna. Menurutnya, kedatangannya di Bumi Sowite (Kab. Muna) bukan karena hal yang biasa saja, namun secara spritual terpanggil, sekaligus menyempatkan melihat kampung halaman.

“Kedatangan ke Wuna, awalnya itu, pertama karena ada arahan dari orang yang memang saya tuakan di Wolio, ditambah ada beberapa hasil diskusi pemuda orang muna yang tinggal di Baubau,” terangnya.

Kurang lebih 17 tahun melepas Kab. Muna, bahkan tidak pernah ikut atau turut andil.

“Iya benar 17 tahun saya tinggalkan Kab. Muna, menetap 14 tahun di Wolio (Kota Baubau), nah selama itu saya fokus di Baubau, tidak pernah sama sekali untuk tau menahu apapun hal di Kab. Muna. Beberapa kali sempat ke Raha, mungkin adalah sekitar 10 kali selama 14 tahun, itu pun hanya dua atau tiga hari saja disana”, ungkapnya.

Ketertarikannya ke BL (Bachrun Labuta) yang saat ini optimis maju Bacalon Bupati Muna 2024-2029, pun bukan tanpa sebab. Hal ini bermula dalam kunjungannya di Bumi Sowite pada pertengahan bulan Mei 2024 lalu, serta tinggal selama 14 hari lamanya di Raha. Jejak silaturahim antar lembaga, hingga pertemuan berbagai elemen organisator dijalaninya setiap hari.

Tak mau menyia-nyiakan waktu, meski diselimuti kekosongan informasi serta bermacam kekurangan, pun tak menyurutkan fokusnya dalam observasi. Tujuan utama, dititikberatkan bagaimana implementasi pembangunan nilai-nilai SDM, ketercakupan ruang dan akses infrastruktur, dan kebutuhan sentral lainnya.

“Banyak sharing disana, saya cenderung fokus di sektor SDM kepemudaan, saya batasi hanya pada implementasi nilai-nilai. Untuk yang lain, saya lebih banyak diskusi ke warga, ini saya kelompokan menjadi narasumber, hasilnya saya kembangkan dengan pola komparatif atau dengan melakukan pendekatan metode dan teori, misal dari kedaan transitif ke dimensi politik atau ke manajemen pembangunan nilai-nilai SDM, infrastruktur dan kebutuhan sentral lainnya di Kab. Muna”, bebernya.

Singkatnya, pasca mengunjungi Masjid Muna sekaligus sholat Jum’at di Bumi Sowite, dirinya terus menerus merenung hingga sesampainya di Kota Baubau. Ia mengungkapkan, catatan hasil observasi selama di Kab. Muna banyak hal berat diawal membuat keyakinannya menurun ketika observasi. Dalam perjalanan waktu, hati nurani terus mengetuk pintu keyakinannya, hingga tensi keraguan itu menurun.

“Diawal, observasi ini, sangat rumit, dan cukup berat, ini dipengaruhi beragam indikator, bahkan parameter narasumber dan nilai disetiap lapisan objek aktif yang saya letakkan sebagai variabelnya,” cetusnya.

Kata dia, satu observasi, ada yang sampai butuh tiga hari baru dapat simpulkan. Selama 14 hari, kurang lebih lima observasi yang dihasilkan dan disimpulkan berdasarkan pendekatan pustaka

LAHIR TAGLINE SELAMA 14 HARI SELAMA DI KAB. MUNA:

Sontak saja, alumni Unidayan Baubau Prodi Ilmu Hukum ini, pun tak tanggung-tanggung, hingga melabeli dirinya sebagai ‘MIENO BL’ yang artinya Orangnya Bachrun Labuta. Kata dia, saat ini pihaknya tengah membuat baliho sebagai bentuk dukungan kepada salah satu Bacabup Muna 2024-2029.

Tagline ini diusung syarat akan makna, diangkat dari perjalanan selama 14 hari di Bumi Sowite, deskripsi singkatnya : “MIENO BL ‘Kabupaten Muna PUNYA Masyarakat, Mieno Wuna MILIK Kabupaten Muna’. Ia mengungkapkan, ada dua kata yang menjadi fokus penekanan pada tagline ini yaitu kata “PUNYA” selaku Kata Kerja (dalam bahasa Austronesia asli yaitu gabungan berbagai etnis besar di benua Asia) dan kata “MILIK” selaku kata benda (kata serapan dari bahasa Arab).

“Jujur saja, tagline ini muncul secara tiba-tiba ditengah alotnya diskusi bersama beberapa pemuda selama di Kab. Muna,” ungkapnya.

Terangnya lagi, kata dia, bahwa penekanan kata ‘Punya’ lebih dimaknakan, bahwa masyarakat Wuna menuju Kab. Muna yang makmur dan jaya dari kerja-kerja nyata, saling bersinergi dan berbudaya sesuai kultur masing-masing, sedangkan kata ‘Milik’ dimaknakan, bahwa masyarakat Kab. Muna mengedepankan etika dan moral secara terus menerus untuk mencapai kemajuan, kemakmuran, kesejahteraan dan ketentraman.

Disamping itu, selain membuat baliho, pihaknya dalam waktu dekat akan membuat dan mengaktifkan group WhatsApp ‘MIENO BL’, hal ini selaku komitmen. Warga masyarakat Muna dapat mendaftarkan diri ke nomor WhatsApp (0822-1336-2478), syarat ajukan nama dan alamat domisili.

“Warga masyarakat khususnya yang berdomisili di Kab. Muna boleh masuk di Group WhatsApp yang nomornya sudah saya cantumkan , dalam waktu dekat kita aktifkan, kalau sudah aktif saya langsung ajukan laporannya ke ‘BL’ (Bachrun Labuta), hal ini demi mengedepankan independensi komunikasi bersama masyarakat,”

APRESIASI KEPEMIMPINAN Plt. BUPATI MUNA

Selaku Aktivis Hukum di Kota Baubau, dirinya mengapresiasi tindakan Plt. Bupati Muna Bachrun Labuta. Kata dia, pasca beliau diamanahkan sebagai Pelaksana Tugas (Plt), beliau (Bachrun Labuta), mampu mengakomodir seluruh elemen di Pemerintahan, ditengah hadirnya berbagai prespektif pro kontra, ditambah efisiensi waktu dan efisiensi feedback, terlebih terhadap poros tata kelola jabatan.

“Beliau cukup mumpuni bila diliat dari segi kepemimpinan, cukup tegas dan ramah. Beberapa kali menyaksikan saat beliau tengah membuka ruang-ruang komunikasi, selain keberagaman masyarakat yang ditemuinya, sampai sekelumit kepentingan umum. Uniknya ideal nya terjaga, ini salah satu stabilitas kepemimpinan,”

Ia mengungkapkan, bahwa dua variabel ini tidak mudah, pertama menempatkan diri selaku Kepala Daerah dalam kapasitas pemegang otoritas kekuasaan yang dititik beratkan pada jabatan. Ke-dua, pemimpin dalam kapasitas kepemimpinan, yang dititik beratkan pada pengetahuan dan jiwa seorang pemimpin ditengah pemegang otoritas kekuasaan pada jabatan.

“Jujur saja, ini tidak mudah, apa lagi sebatas Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Muna. Banyak pengalaman dari keadaan ini, sangat butuh kehati-hatian dan keseimbangan yang konkret. Jika tidak berpengetahuan, bisa saja akan jebol, atau salah arah,” terangnya.

Disisi lain, melihat situasional birokrasi Pemkab Muna terkini melalui mekanisme beliau (Bachrun Labuta) bergerak pada tata idealis. Menurutnya, ini mustahil, cukup rumit untuk dirasionalisasi, tidak mudah, butuh posisi pemimpin pada titik kebijakan strategisnya ditengah dua indikator, memanajemeni semangat seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) terutama lini pelayanan dan berkepastian hukum kepada masyarakat.

“Ini Pola kepemimpinan yang unik, jujur saya anggap luar biasa, saya yakin ada campur tangan ‘Ridho Illahi’. Selain penuh kehati-hatian, saya condong pada sikap kepatutannya kepada hukum, tipikal kepemimpinan yang tidak tergesa-gesa atau tidak terburu-buru, apa lagi terkait mutasi jabatan, sangat ditelaah matang-matang”

Diketahui, usai dikeluarkannya Rekomendasi Kemendagri RI, per awal Juni 2024 Pemkab Muna melakukan mutasi Eselon II dalam rangka penataan sistematis birokrat. Selanjutnya dikabarkan untuk penataan Eselon III, diperkirakan awal Juli 2024 dikarenakan menunggu dikeluarkan nya rekomendasi Kemendagri RI.

“Saya salut, nalar dan psikologinya saya anggap benar-benar kuat, ini soal strategis dan problem solving. Seandainya saya diposisinya, pasti berat dan tidak mudah, apa lagi jika tidak punya pengalaman berorganisasi atau tidak punya pengalaman apa-apa di birokrasi,” jelasnya.

Pun akhirnya, Ketua Pengawas Independen Indonesia Kepulauan Buton ini, komitmen dan menaruh harapan, seyogianya masyarakat Kab. Muna khususnya, lebih jauh mengetahui cikal bakal siapa pemimpin nya kelak. Pemimpin tidak diciptakan secara singkat, namun lahir dari proses dan pengalaman.

“saya menaruh kepercayaan, mieno wuna adalah orang cerdas, tidak hanya berskala daerah, tapi Nasional bahkan internasional. ‘Kabupaten Muna PUNYA Masyarakat, Mieno Wuna MILIK Kabupaten Muna’,” pungkasnya.

Ucapan Terimakasih Kepada Pemuda Organisator Kab. Muna.

Pun demikian, tak lupa mengucapkan banyak terimakasih atas bermacam sambutan khususnya elemen kepemudaan di Kab. Muna, “Terimakasih yang sebesar-besarnya atas sambutan hangatnya, pemuda dan organda yang berdomisili di Kab. Muna, semoga pertemuan awal tersebut menjadi magnet terwujudnya agenda di daerah untuk Muna yang makmur dan jaya kemudian hari,” ucapnya.

Selain itu ia juga menegaskan, bahwa pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia sudah didepan mata. Berdasarkan Peraturan KPU RI No. 2 Tahun 2024, pemungutan sura bakal digelar pada Rabu 27 November 2024 mendatang, salah satunya Kabupaten Muna

“Sudah tidak lama, pemilihan kepala daerah kita sudah didepan mata, kurang lebih 5 bulan lagi masyarakat Indonesia sudah akan mengetahui siapa Kepala Daerah nya, mulai dari Bupati, Walikota dan Gubernur beserta wakil-wakilnya,” tutupnya.

Ia pun menekankan pada masyarakat perlunya memahami Pasal 2 Peraturan KPU RI No.2/2024, yang mana ayat (1) mencatut kalimat bahwa pemilihan secara Demokratis, berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Sementara di ayat (2) menyatakan bahwa penyelenggara Pemilihan harus memenuhi prinsip mandiri, jujur, adil, berkepastian hukum, tertib, terbuka, proporsional, profesional, akuntabel, efektif, efisien, dan aksesibel.

Tinggalkan Balasan