BAUBAU – Jalan ninja seorang guru PAUD bertahan, berdaya, dan tetap setia pada dunia anak-anak, meski sistem sepenuhnya belum berpihak padanya.
“Kreativitas saya hadir karena besarnya beban hidup,” Kalimat itu mengalir pelan, tanpa drama, dari sosok perempuan tegar. Bunda Helmi, pendiri Makesa Calistung.
Usaha rumahan itu dirintis kecil-kecilan. Tidak ada spanduk besar di depan rumah kosnya. Tidak ada gedung khusus. Bahkan, nyaris tak ada tanda bahwa di tempat sederhana itulah sebuah usaha pendidikan bertumbuh. Promosinya berjalan dari mulut ke mulut, sesekali mampir di media sosial. Muridnya pun tidak banyak.
Semua dikelola sendiri, tanpa staf, tanpa tim. Perihal kreativitas usaha, seperti itulah Bunda Helmi memberi jawaban ke mahasiswa saya: Jujur dan apa adanya. Kami datang berenam. Saya menemani lima mahasiswa saya guna mewawancarai usaha Makesa Calistung. Ini tugas kuliah kewirausahaan. Saya mengajak para mahasiswa untuk belajar langsung dari kehidupan nyata. Dari seorang pendidik yang bertahan, berinovasi, dan terus berjalan meski dalam ruang hidup yang sempit.
“Kalau kita tidak punya skill, bagaimana caranya bersaing di pasar pendidikan?” tanya Andini. Mahasiswi semester satu itu penasaran dengan bagaimana Bunda Helmi memulai segalanya.
“Nah…di sini pentingnya kita tahu potensi diri sendiri. Contohnya saya yang sejak kecil suka boneka,” Bunda Helmi memeluk Makesa, boneka lucu dengan mata bulat yang besar. “Ternyata dari kesukaan itu, saya melihat peluang mendongeng dengan model ventriloquist.”
Ventriloquist atau biasa dikenal dengan sulap suara merupakan keterampilan mendongeng dengan menggunakan suara perut. Melalui keahlian itu, Bunda Helmi membuka layanan mendongeng ke sekolah-sekolah. Ia juga kerap dipanggil menjadi MC di acara-acara ulang tahun. Berdua bersama partner lucunya Makesa, ia menghibur sekaligus mengedukasi anak-anak.
Saban pagi, Bunda Helmi menjalankan rutinitasnya sebagai guru PAUD di salah satu TK Islam di Kota Baubau. Honor yang ia terima sekitar satu juta rupiah per bulan. Jumlah yang sebenarnya cukup ironis namun tergolong “lumayan” di dunia honorarium PAUD.
Data UNICEF (2020) dan World Bank (2019) mencatat bahwa sekitar 70% guru PAUD di Indonesia berpenghasilan di bawah Rp500.000 per bulan. Pendapatan mereka rendah, terfragmentasi, dan berdampak langsung pada kualitas layanan pendidikan anak usia dini. Banyak dari mereka berstatus honorer, dengan gaji tidak stabil, bervariasi antar daerah, dan belum terintegrasi dalam skema kepegawaian formal seperti PNS atau PPPK. Akibatnya, akses terhadap gaji minimum, tunjangan, sertifikasi profesi, hingga pengembangan karier menjadi sangat terbatas.
“Yah, tapi dengan angka segitu, bagaimana mau hidup? Belum bayar kosan, listrik, beras, dan lain-lain. Tidak cukup! Makanya saya harus putar otak biar kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi,” tutur Bunda Helmi dengan suara lirih tapi tegas. “Apalagi saya seorang single parent yang harus membiayai pendidikan tiga anak. Karena itulah saya buka Makesa Calistung ini.”
Fakta di lapangan menunjukkan, sebagian besar guru PAUD berpenghasilan jauh di bawah rata-rata pekerja lain dengan tingkat pendidikan serupa di sektor formal. Salah satu penyebab utamanya adalah alokasi anggaran PAUD yang relatif kecil dibanding jenjang pendidikan lain. Sebuah ironi yang kontras dengan pernyataan Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan periode 2019–2024.
Dalam salah satu pidatonya, Nadiem justru menyerukan agar guru SD, SMP, SMA, bahkan dosen, belajar pedagogi dari guru-guru PAUD.
“Kemampuan berinteraksi kepada anak PAUD itu suatu hal yang luar biasa sulitnya dan kompleks. Dan tantangan luar biasa itu, dilaksanakan guru-guru PAUD senusantara Indonesia setiap hari. Tapi, disebut itu adalah tugas yang lebih mudah dari pada guru-guru yang jenjang lebih tinggi, itu tidak benar. Karena menurut saya, itu malah yang tersulit, menjadi guru PAUD,” ujar Nadiem Makarim yang disambut gemuruh tepuk tangan.
Namun tepuk tangan saja tidak cukup.
BPS (2023) mencatat bahwa rata-rata upah pekerja formal masih jauh lebih tinggi dibanding guru PAUD. Di titik inilah paradoks itu terasa nyata: mereka yang mendidik fondasi generasi bangsa justru hidup di garis ketidakpastian.
Kisah Bunda Helmi menunjukkan satu hal penting: kreativitas sering kali tidak lahir dari kenyamanan, melainkan dari keterdesakan. Makesa Calistung bukan sekadar usaha pendidikan rumahan. Ia bisa jadi sebentuk perlawanan sunyi.
Di sisi lain, bagi para mahasiswa yang duduk mendengarkan kisahnya di sore itu, cerita Makesa Calistung seharusnya dibaca dari sudut yang berbeda. Bisa jadi lembaran peringatan sekaligus peluang. Bahwa dunia pendidikan tidak selalu menyediakan ruang aman dan penghidupan yang layak. Tetapi selalu membuka ruang bagi mereka yang mampu mengenali potensi diri, mengolahnya menjadi nilai, dan yang terpenting berani mencipta jalan “ninjanya” sendiri.
Penulis: Suhardiyanto





