
WAKATOBI, FAKTASULTRA.ID- Pasca dinobatkan sebagai Laode Barani Mina I Tomia, Samsu Umar Abdul Samiun melanjutkan lawatannya di pulau Binongko, untuk menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat yang terkena dampak COVID-19.
Penyerahan secara simbolis yang dipusatkan di Kelurahan Rukua, Kecamatan Binongko itu sekaligus diperingati dengan hari pahlawan yang jatuh pada hari Selasa, (10/11/20). Kecamatan Binongko merupakan tempat terakhir mantan Bupati Buton dua periode itu menyalurkan bantuan di kabupaten surga nyata bawa laut itu.
Tercatat 30 ton beras yang dikemas dalam karung 10 kg diserahkan di kecamatan pulau pandai besi itu. Dengan begitu, total beras yang diserahkan di Wakatobi berjumlah 100 Ton dengan rincian, Kaledupa 40 ton, Tomia 30 ton dan Binongko 30 ton.
Dalam sambutannya, Umar Samiun sedikit bercerita soal sejarah singkat bergabungnya Kesultanan Buton ke negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). Saat itu, kata dia, presiden pertama RI, Ir. Soekarno sempat menemui sultan Buton ke-38, Oputa Falihi di Malino, Makasar pada Februari 1950. Pertemuan tersebut kemudian dicatat dalam sejarah nasional yang dikenal dengan, pertemuan Malino.
Saat itu, lanjutnya, beberapa pejabat dan pembesar kerajaan sekitar seperti, Raja Bone, Andi Mappanyuki dan Gubernur Afdeling (bagian atau divisi) Makassar, Andi Pangeran Pettarani, turut hadir.
“Jadi, dipertemuan itu Soekarno membujuk dan meminta Kesultanan Buton untuk bergabung dan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia,” bebernya.
Menurut perjanjian Jenewa, tambahnya, kerajaan atau kesultanan yang masuk dalam wilayah NKRI adalah kerajaan atau kesultanan yang tak pernah dijajah Belanda. Dalam catatan sejarah, Buton tak pernah dijajah Belanda. “Karena sejarah itu, sultan akhirnya setuju kalau kita Buton masuk dalam NKRI dengan syarat tertentu seperti, diberi hak istimewa dalam mengelola wilayah nya,” jelasnya.
Awalnya, lanjutnya, kesepakatan itu berjalan komitmen. Hal itu dibuktikan dengan terpilihnya Buton sebagai ibu kota provinsi Sulawesi tenggara yang saat itu masih bergabung dengan Sulawesi Selatan (sulseltra). Namun seiringnya waktu, perjanjian itu berlahan tak sesuai lagi. Hal itu dibuktikan dengan terpilihnya Kendari sebagai ibu kota provinsi Sultra saat terlepas dari Sulawesi Selatan Tenggara. “Nah, kebesaran sejarah itu yang ingin saya kembalikan nanti. Karena itu, saya akan maju gubernur Sultra pada periode kedepan,” tegasnya.
Selain memberikan bantuan beras, Umar Samiun juga membantu pembangunan masjid raya setempat dalam bentuk 100 sak semen. Tak hanya itu, ia juga memberikan uang tunai senilai Rp 5 juta.
Salah satu tokoh yang mewakili mewakil masyarakat setempat, La Ode Jufri Defani mengucapkan terimakasih yang mendalam atas kesediaan bapak Umar Samiun berkunjung sekaligus memberikan bantuan beras kepada masyarakat Binongko. “Bagi kami, jangan kan 10 kg, 1 kg bagi kami itu sangat berharga,” beber perangkat adat Binongko itu.
Senada dengan wakil ketua panitia pembangunan masjid, Parman. Ia mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan yang diberikan guna pembangunan masjid raya di pulau yang diapit laut Banda dan laut Flores itu. “Terimakasih banyak. Semoga apa yang menjadi keinginan beliau untuk mengembalikan kebesaran Buton itu dapat tercapai,” harapnya.











