Memberitakan Dengan Fakta
BUTON  

Ciptakan Wirausaha Baru Produktif, Fatayat NU Buton gandang BPP Kendari Gelar Pelatihan

Ciptakan Wirausaha Baru Produktif, Fatayat NU Buton gandang BPP Kendari Gelar Pelatihan
Ciptakan Wirausaha Baru Produktif, Fatayat NU Buton gandang BPP Kendari Gelar Pelatihan
Ciptakan Wirausaha Baru Produktif, Fatayat NU Buton gandang BPP Kendari Gelar Pelatihan

BUTON,FAKTASULTRA.ID – Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Buton bekerja sama dengan Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ditjen pembinaan, pelatihan, dan produktivitas Unit Pelaksana Teknis Pusat (UPTP) Balai Peningkatan Produktivitas (BPP) Kendari menyelengarakan pelatihan wirausaha baru Produktif di Kabupaten Buton.

Pelatihan dilaksanakan di aula kantor Desa Waoleona, Kecamatan Lasalimu, selama lima hari. Terhitung sejak kemarin, 10-14 September 2020.

Dalam pembukaannya, Sebelum pelatihan dilaksanakan, para peserta diwajibkan menerapkan protokol kesehatan, dengan wajib memakai masker dan hand sanitizer, termasuk pengukuran suhu badan. Kegiatan pelatihan juga menerapkan pola physical distancing.

Dalam acara pembukaan, kepala UPTP Balai Peningkatan produktivitas (BPP) Kendari diwakili oleh Kepala seksi penyelenggara dan pemberdayaan, La Ode Haruwijaya Kaeba.

BPP Kendari membawahi 10 provinsi wilayah binaan, termasuk Sulawesi Tenggara.

Ketua Fatayat NU Kabupaten Buton, Siti Marlina S.Ag MSi menyebutkan peserta pelatihan sebanyak 40 orang. Saat melaksanakan pelatihan mereka di bagi dua kelas. Peserta wirausaha produktif yang sudah jalan, dan peserta yang baru mau merintis usaha. Masing-masing kelas dinamai, Paket 33 dan 34. Setiap kelasnya terdiri dari 20 peserta.

“Terus pesertanya bukan PNS. Bukan mahasiswa bukan pelajar dia betul-betul murni rakyat. Ibu rumah tangga seperti itu. Sehingga bisa membantu perekonomiannya, kelak dia membuka usaha, ujar dia kapada Publiksatu.co, Jumat (11/9/2020).

Lanjut, ia menjelaskan kegiatan ini sebagai bentuk kepedulian Fatayat NU dalam membina usaha mikro kecil menengah di Kabupaten Buton. Dipelatihan kali ini, para peserta dilatih membuat abon ikan Kakap dan puding custard.

“Kebetulan yang akan praktek ini dia ambil dua macam. Yakni abon kakap. Sama puding custard,” ujarnya.

Ia menjelaskan pelatihan pembuatan abon ikan sangat cocok dikembangkan di Desa Waolena. Mengingat desa terluar yang berbatasan dengan Kabupaten Buton Utara itu merupakan salah satu desa penghasil ikan.

Sedangkan Puding custard. Sesuatu olahan yanh terbilang baru. Sehingga penting pelatihan dilakukan seligus memperkenalkan puding custard kepada masyarakat.

“Itu kan boleh dibilang disinikan sesuatu yang baru. Jadi kita ingin perkenalkan sehingga masyarakat bisa membuat sebuah menu yang spesial buat tamu luar daerah. Tamu luar Lasalimu la,” ujarnya.

Ia berharap dengan adanya pelatihan ini, abon nantinya bisa menjadi salah satu prodak usaha yang bisa dikembangkan oleh para pelaku usaha.

“Artinya harapan kita abon ini bisa berkembang. Dan pas akhirnya bisa bekerja sama dengan fatayat. Menjadi binaan fatayat. Artinya menjadi usaha besar. Akan membantu kelancaran perekonomian,” harapnya.

Tidak hanya itu, ia mengaku pelatihan semacam ini, merupakan kegiatan perdana buat NU Kabupaten Buton. Ia juga menyebutkan nantinya, para peserta pelatihan akan diberikan sertifikat.

Sementara itu, Mewakili Camat Lasalimu, Sekcam, La Ode Zahaba mengaku sangat mengapresiasi pelatihan itu.

Menurutnya, kegiatan semacam itu sangat membantu masyarakat dalam peningkatan produktifitas kerajinan rumah tangga Kecamatan Lasalimu terkhusus desa Waoleona.

“Hasil dari ini masyarakat bisa di perdayakan untuk pengembangan usaha mereka baik untuk ketahanan pangan mereka maupaun di rumah tangga sendiri kan,” ujar dia kepada Publiksatu.co.

Lanjut, Ia menjelaskan pelatihan wirausaha baru Produktif sangat cocok dilakukan di Kecamatan Lasalimu. Terlebih di kecamatan itu memiliki potensi yang perlu dikembangkan. Baik dari pertanian maupun hasil laut.

Bahkan kata dia hasil alam di Kecamatan Lasalimu banyak yang terbuang percuma tidak termanfaatkan.

“Mengingat bahwa bumi Lasalimu ini areal lahan pertanian yang begitu subur. Dan potensi untuk meningkatkan kerajinan rakyat itu masi tinggi utamanya makanan-makan rakayat. Kaya ubi-ubian dan hasil-hasil kelauatan berupa abon itu. Karena banyak ikan terbuang-buang percuma. Mendingan hasil masyarakat itu di buatkan abon,” ujarnya.

Ia berharap brand produk olahan abon hasil perlatihan itu sekiranya ada yang dinamakan Waoleona dan Kecamatan Lasalimu.

“Berlogo desa Waoleoena ataupun ada yang berlogo kecamatan Lasalimu,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan