Memberitakan Dengan Fakta

Kementerian Pertanian Optimis Terjadi Surplus Beras Juni Nanti

Kementerian Pertanian Optimis Terjadi Surplus Beras Juni Nanti
Kementerian Pertanian Optimis Terjadi Surplus Beras Juni Nanti
Mentan Syahrul Yasin Limpo

JAKARTA,FAKTASULTRA.ID – Menjelang Juni mendatang Kementerian Pertanian (Kementan) optimis bakal terjadi surplus beras. Hal itu ditandai dengan hitungan prediksi produksi panen pada Mei dan Juni yang mencapai total 12,39 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Total tersebut diperoleh dari hasil prediksi produksi 8 provinsi di Indonesia. Di antaranya Lampung, Sumatera Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara. Delapan provinsi tersebut mencatat produksi lebih dari 500.000 ton GKG.

Dengan capaian tersebut, beras diperkirakan akan tersedia 6,96 juta ton dari Mei hingga Juni mendatang. Jika kebutuhan beras selama dua bulan sebesar 5,34 juta ton, maka akan ada surplus sebesar 1,6 juta ton di akhir Juni nanti.

Surplus beras tersebut diprediksi membuat harga beras stabil sampai September dan Oktober mendatang. Kementerian Pertanian memprediksi, harga beras medium tidak akan mencapai sekitar Rp 10.000 per kilogram di tingkat konsumen.

Harga beras yang cenderung kurang terkendali dalam beberapa waktu terakhir memang menjadi perhatian bersama. Menteri Pertanian Amran Sulaiman pun pada pertengahan Mei lalu menyatakan harga gabah di berbagai daerah terpantau anjlok.

Daerah-daerah tersebut adalah Batubara (Sumatera Utara), Oku Timur (Sulawesi Selatan), Banyuasin (Sumatera Selatan), Tulang Bawang (Lampung), Klaten (Jawa Tengah), Yogyakarta (DIY), Bojonegoro (Jawa Timur), Ternate (Maluku Utara), Pulau Buru (Maluku), hingga Manokwari dan Merauke (Papua).

Harga gabah di berbagai daerah tersebut berada di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang telah diatur dalam Inpres Nomor 5/2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras oleh Pemerintah.

Sebagai tindak lanjut harga gabah dan beras tersebut, Kementan pun mencermati penyerapan panen petani oleh Bulog. “Karena Bulog bersaing dengan pihak swasta, mereka sulit menyerap maksimal. Meski beras cukup tapi harganya mahal karena diserap swasta,” ujar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, Senin (18/5).

Sementara untuk menjaga stok beras tetap aman, Kementan juga mengusulkan agar dilaksanakan pendataan pada pihak swasta yang ikut menggiling beras. Dengan data tersebut, maka pemerintah akan mengetahui stok beras yang tersimpan di swasta sehingga harga beras di pasar lebih mudah dikontrol.

sumber tribun

Tinggalkan Balasan