Memberitakan Dengan Fakta

Pilkada Butur, Diagnosis Power Syndrome Part I : “PENCITRAAN”

Pilkada Butur, Diagnosis Power Syndrome Part I : "PENCITRAAN"
Asri Yawan

Memasuki tahun 2020 ini, masyarakat disuguhkan dengan  momentum besar pesta demokrasi pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak. Riuh-pikuk Pilkada kini telah menyebar hampir merata di berbagai daerah tak terkecuali di Pilkada Buton Utara (Butur).

Penulis : Asri Yawan

Perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) Butur, menembus ruang publik dari akar rumput hingga pucuknya, itulah wajah Demokrasi Kita, semua elemen seolah tak akan pernah mau kehilangan momentum menyoal siapakah gerangan pemimpin yang kelak di kehendaki oleh rakyatnya pada 23 September Mendatang?

Berbagai irisan kepentingan dalam menyambut pemilukada, dari yang Pernah Berkuasa (Post Power Syndrome), yang Kini Sedang Berkuasa (In Power Syndrome) dan Penantang Baru (Pra Power Syndrome) menjadikan tensi dan suhu politik kian memanas.

Pertarungan ide, brand & visi-misi tiada lain untuk membangun Pencitraan dengan hingar bingar berbagai publisitas yang dimainkan oleh para tim dan simpatisan menjadi menu favorit di suguhkan pada setiap ruang diskusi bahkan media.

Penulis pun tergelitik saat menyoal Pilkada Butur, pada tataran Pencitraan jelang pilkada Butur 2020 kali ini. Ruang publik kita riuh dengan menu jargon-jargon politik seperti, Masih Kita (Petahana Siap Maju), Panggil Pulang (RZ, Rebut kembali), bahkan yang paling menggugah nalar penulis yaitu jargon yang satu ini Aimo (AA, Siap Tumbangkan Petahana). Tak hanya itu,  pencitraanpun memenuhi ruang publik, tak tanggung-tanggung seperti mana yang disuguhkan oleh para aktor politik kita, seperti “Seorang Bupati di TEROR di Media Sosial”, dan isu yang kini berkembang  dan menjadi ruang diskusi pada bilik media adalah Belajar Kepemimpinan : Polemik antara Istighfar (Politikus PAN) vs Julman Hijrah (Politikus PDI-P).

Penulis terasa makin larut dalam menyoal Pilkada Butur. Biar makin asyik mari seruput racikan khas Rumah Kalibu. Tak hanya mampu mengusik dinginnya suasana malam, namun aroma pilkada Butur yang kian melarutkan.

Di antara sekian banyak hal tersebut, penulis merasa perlu mengurai poin pencitraan. Bahwa orang berlomba mencitrakan diri dengan berbagai macam cara yang disengaja atau tidak disengaja hanya untuk mendapatkan popularitas untuk “Calon Kandidatnya” nanti. Memang harus diakui bahwa politik itu mutlak membutuhkan pencitraan. Tanpa pencitraan, orang tidak akan mengenalnya. Pencitraan merupakan bagian dari kebutuhan branding bagi setiap orang yang membutuhkan perhatian publik.

Dari fenomena yang demikian, tentunya akan menjadi masalah ketika strategis ketika pencintraan itu justru lebih mengarah kepada upaya pembohongan atau penipuan kepada publik. Pembohongan atau penipuan publik yang dimaksud adalah adanya ketidakseimbangan antara realitas dan apa yang ditampilkan seseorang di ruang publik melalui kampanye di media sosial.

Entah suara dari arah mana hingga terdengar bahwa rakyat kita sudah cerdas, tidak mungkin lagi bisa dibohongi…!

Bersambung….

Sekretaris HIPMA BUTUR-KENDARI

Tinggalkan Balasan